Realstory69.com – Bak seperti film bokep jepang, peristiwa ini merupakan adegan pelecehan seksual oleh seorang tante, TW (34) kepada ponakannya, SB (16) ketika meminta pijat di kamarnya, sabtu (15/1).

Hal ini kemudian dilaporkan oleh ayah korban, FY (48) kepada Polres Salatiga atas kejadian yang menimpa anaknya. Sebelumnya, anaknya mengeluh kesakitan pada ujung alat kelaminnya yang memerah dan terdapat beberapa luka goresan. Ayahnya yang curiga, kemudian memaksa anaknya untuk cerita mengapa hal tersebut bisa terjadi.

Anak saya sakit, karena sebelumnya dia pergi ke rumah tantenya untuk bermain. Namun kemudian ia diminta untuk memijat badan tantenya di kamar dengan imbalan uang 30.000. Anak saya mengiyakan karena juga tidak enak dengan tantenya kalo nolak“, jelas ayah korban, FY mendatangi polres Salatiga. Awalnya, tidak ada hal yang mencurigakan. Namun setelah beberapa hari, korban merasa nyeri di kemaluan yang ditandai dengan warnanya yang memerah.

Kemudian tersangka diamankan oleh Satreskrim Polres Salatiga untuk menjalani proses pemeriksaan. “Tersangka kini telah kami bawa untuk proses pemeriksaan di Polres“, jelas Kapolres Salatiga, Yudho Trikoro.

Ayah korban sangat menyayangkan kejadian ini, hal ini menurutnya akan membawa pengaruh buruk psikologi dan masa depan anaknya. “Kami harap, pelaku dapat dihukum seberat-beratnya. Anak kecil udah diajari begituan. Anak saya mau jadi apa nantinya?” pungkas FY dengan nada meninggi. (red)

————-

Antara Bejat dan Pengorbanan, Tante Rela Puaskan Ponakan

Gambar: ilustrasi

Realstory69.com – Tante yang ajak ML dengan ponakannya adalah tante yang bejat, namun tante yang peka dan rela berkorban demi kesenangan ponakannya adalah tante yang baik. Haha…

Kepada kru realstory69.com, sang tante, TW (34) menjelaskan alasan dan kronologi, mengapa ia tega melakukan hal bejat itu kepada ponakannya, SB (16) yang masih duduk di bangku SMA tersebut.

Berikut ini ulasannya secara ringkas,

  1. Sabtu (8/1), keponakanku datang main ke rumah jam 09.00 WIB. Ketika itu aku sedang tidur di rumah bersama anak perempuannku, SF (2).
  2. Sekitar pukul 11.30 WIB, anakku tertidur di ruang tengah. Aku membawanya ke kamar dengan bantuan ponakanku. Kemudian aku membaringkannya di atas ranjang.
  3. Setelah selesai, aku pergi ke kamar samping dan ponakanku kembali ke ruang tengah menonton TV.
  4. Badanku terasa pegal, biasanya aku dipijat oleh suami. Tapi suami sedang pergi ke luar kota sedang ada tugas. Pikirku, ponakanku pasti mau mijit aku kalo tak kasih imabalan. Aku pun segera memanggilnya.
  5. Setelah sepakat, akhirnya aku buka baju dengan mengenakan dalaman saja. Biar sekalian berasa dan dikerokin.
  6. Ponakanku kali ini bersemangat, aku heran. Apa karena imbalan atau sudah bernafsu. Tapi aku berpikir positif saja dan membiarkan tangannya meraba punggungku.
  7. Beberapa menit berlalu, aku hampir saja tertidur. Namun aku merasakan benda keras hangat menempel di paha kananku. Setelah aku tengok, memang selakangan ponakanku menempel di paha kananku. Aku biarkan saja.
  8. Aku terperangah kaget, saat tangannya turun dari punggung dan meremas bokongku. Aku mulai deg-degan, pikiranku sudah mengada-ada. Ditambah lagi, celanaku merosot dan hampir toples.
  9. Ia berusaha menarik celanaku tapi aku kaget, bukannya celana malah aku memegang burungnya yang ngeceng. Seketika aku bangun dan membalikkan badan. Yang ku lihat adalah burung itu udah menonjol mau keluar.
  10. Ponakanku malu dan menutupi burungnya itu. Tapi aku penasaran, apa iya ponakanku udah bernafsu. Ku tarik tangannya dan melihat burungnya menonjol dan ku buka celananya terlihat sudah mengeras.
  11. Aku tarik tanganya agar tubuhnya menindihku. Aku tau kalo ponakanku ini tidak kuasa terus-terusan menahan. Ku arahkan tangannya ditetekku.
  12. Dia sendiri yang membuka celanaku, memasukkan burungnya dan menseksku pelan. Aku kaget, ponakanku ini bisa tau juga caranya.
  13. Pelan memang, karena ponakanku juga tak kuasa menahan sakit pada burungnya. Aku lihat dia belum terlalu perkasa buat menyetubuhi perempuan.
  14. Aku buka BHku, menarik tangannya meremas susuku. Maklum, meskipun anak kecil tapi cukup horny.
  15. Ia menghentikan penetrasinya, agak ngos-ngosan terus mengemut susuku. Aku mengocok burungnya agar bisa lebih memanas.
  16. Agak bosan, aku menidurkan ponakanku dan menindihnya. Burungnya yang agak loyo itu aku masukkan ke dalam memekku. Ia terhenyak dan mendesah kesakitan.
  17. Aku terus saja berusaha melakukan penetrasi, sesekali juga akan menahan burungnya di dalam dan mengambil nafas.
  18. Tubuhnya yang kecil bergocang dan bergetar, penahanan ketiga aku merasa ada cairan hangat di dalam. Aku sadar, ponakanku telah tumbang. Aku menarik pahaku, melihat burung muda itu jatuh tak bertenaga. Mungkin ini batas ketahanan ponakanku.
  19. Aku menyudahi dan memintanya segera mandi dan pulang. (red)
Advertisements